FARAH SHAFY SAHARA

Berpacu Menjadi Yang Terbaik

Stereotype Merupakan Bentuk Ketidakadilan Gender

diposting oleh farah-afy-sahara-fkm17 pada 25 October 2017
di Sosankes - 0 komentar

Dalam kehidupan selalu ada jurang pembeda antara perempuan dan laki-laki. Mengapa sih ada pembedaan? Lalu, pembedaan sendiri itu apa? Nah, pembedaan memiliki makna yaitu terjadi atas konstruksi sosial, tidak berasal dari sesuatu yang alamiah. Perempuan dan laki-laki telah disekatkan karakteristik tertentu. Karakteristik – karakteristik tersebutlah yang disebut stereotype gender. Sejak dahulu kala, Kartini telah memperjuangkan emansipasi wanitanya, bahkan sejak era dimana ketika perempuan-perempuan Indonesia tidak dapat mengenyam pendidikan seperti laki-laki dan hanya digunakan sebagai pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang.


Stereotype merupakan salah satu bentuk ketidakadilan gender. Semua bentuk ketidakadilan terkait gender bertitik pangkal dari stereotype gender. Stereotypemerupakan pemberian citra baku atau label kepada seseorang atau kelompok yang didasarkan pada anggapan atau pemahaman tertentu. Semua stereotype bisa didasarakan pada gender, pengaruh budaya, ataupun pengelompokan lain yang mengacu pada gambaran tentang bagaimana ciri anggota kategori sosial tertentu.

Stereotype juga telah menciptakan istilah feminim dan maskulin yang didasarkan pada ciri perempuan dan laki-laki terkait dengan peran gender. Pada akhirnya tidak hanya dijadikan penanda ciri laki-laki dan perempuan, tetapi meluas hingga ranah peran dan pekerjaan. Apa yang dikerjakan perempuan dan laki-laki selalu dikaitkan dengan stereotype gender. Jika laki-laki dan perempuan keluar dari citra yang telah umum menempel pada diri laki-laki maupun perempuan, maka mereka akan dianggap aneh dan tidak benar. Apakah kalian pernah mendengar kalimat seperti :


Biru untuk laki-laki sedangkan merah muda untuk perempuan”.

“Laki-laki itu pantang menangis kalau menangis bukan laki-laki namanya karena yang boleh menangis hanya perempuan”

“Laki-laki harus kuat dan berani kalau tidak, mereka sama saja seperti perempuan”.


Hal tersebut jelas memperlihatkan bahwa ada pembedaan yang jelas dan membatasi laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih ditinggikan dengan sifat maskulinya sedangkan perempuan semakin direndahkan. Laki-laki memiliki citra baku, bahwa seorang laki-laki harus berani, kuat, pantang menangis, agresif dan sebagainya. Sedangkan kaitanya dengan peran, laki-laki adalah pencari nafkah utama dalam keluarga, menjadi pemimpin dalam keluarga, dan pembuat keputusan. Padahal pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Perempuan juga bisa memiliki hal yang sama yang dimiliki laki-laki. Perempuan bisa kuat tidak lemah, pantang menangis, menjadi kepala keluarga (ketika ia menjadi single parent), bisa mencari nafkah, bahkan ketegaran dan kekutan perempuan bisa melebihi laki-laki. Dan sebaliknya, laki-laki juga punya sisi feminis, melankolis juga, contohnya ketika orang yang mereka kasihi tiada, laki-laki juga bisa menangis, laki-laki juga memiliki rasa penyayang dan jiwa asuh dalam dirinya, lelaki juga bisa memiliki sifat pemalu dan tidak agresif.

“Perempuan dan lelaki hanya ada perbedaan bukan pembedaan.” – Silcya Kautsarizka

Jadi menurut pandangan saya pribadi, stereotype lebih banyak merendahkan pribadi perempuan daripada sebaliknya. Stereotype juga memiliki dampak negatif dan sering kali perempuan menjadi pihak yang dirugikan. Salah satunya adalah tindak kekerasan, yang dilakukan bermula dari pemahaman terkait dengan stereotypegender pada perempuan.


Berbagai citra baku wujud dari stereotype gender telah menyudutkan perempuan pada suatu titik dimana perempuan menjadi mahluk yang terbelenggu oleh pandangan yang kadang tidak rasional. Pemikiran yang harus diubah saat ini adalah bahwa setiap perempuan mampu sejajar dengan lelaki dalam hal apapun, asal tidak bertentangan dengan kodratnya sebagai perempuan. Stereotype bahwa perempuan lemah, tidak mandiri dan lain lain merupakan produk sosial yang meremehkan kaum perempuan. Maka stereotype itu harus bisa dibantahkan dengan adanya gambaran perempuan yang mandiri, cerdas, intelegen, rasional, berani, mampu mengambil keputusan dan sebagainya. Stereotype gender bisa dirubah, dimulai dari cara pandang orang tua, sehingga mereka dapat mengubah pola asuh pada anak. Walaupun tidak serta merta, namun usaha dan upaya itu pelan-pelan akan menghilangkan ketidakadilan gender.

 

Farah Shafy Sahara

101711133100

IKM B 2017

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :